Monday, January 31, 2011

Langkah Untuk Terlepas Dari Masalah

“Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.” Mazmur 91:1-4.

Tidak habis-habisnya kita menghadapi masalah dalam kehidupan ini. Tetapi Tuhan memang tidak pernah berjanji kepada kita bahwa Dia akan menghilangkan masalah dari kehidupan kita. Satu hal yang pasti adalah Dia berjanji akan melepaskan kita dari segala masalah yang kita hadapi dan memberikan kemenangan bagi kita atas masalah-masalah tersebut. Lalu bagaimana agar kita dapat menerima kelepasan dari Tuhan dan meraih kemenangan atas setiap masalah? Berikut 3 langkah yang dapat menjadi panduan bagi kita untuk terlepas dari masalah:

1. Jangan menjauh dari Tuhan.
Keadaan susah yang kita alami tidak boleh membuat kita menjauh dan mundur dari Tuhan. Jika perlu kita harus lebih aktif lagi mencari wajah Tuhan. Semakin kita menjauh dari Tuhan, maka perlindungan Tuhan juga akan menjauh dari kita. Kita akan menjadi lebih rentan lagi terhadap berbagai masalah dan bahaya yang menghadang. Kita tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Tetapi jika kita tetap berada dalam naungan Tuhan, maka Tuhan akan selalu memberikan perlindungan bagi kita. Tidak ada sehelai rambutpun akan jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan. Sama seperti kisah Ayub yang mengalami pencobaan yang begitu berat, tetapi dia tetap menggantungkan hidupnya kepada Tuhan. Sehingga Tuhanpun memulihkan kehidupannya bahkan memberkatinya berlipat ganda.

Tetaplah dekat kepada Tuhan dan berusaha untuk lebih dekat lagi kepadaNya ketika kita sedang masalah yang berat. Maka kita akan melihat tangan Tuhan yang akan menolong dan melepaskan kita dari segala jerat yang ada. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10:25. “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” 1 Timotius 4:8.

2. Melangkah dengan iman
Tuhan akan mencurahkan hikmatNya bagi kita jika kita senantiasa dekat kepadaNya. Dia akan memberikan jalan keluar bagi kita. Melalui hikmatNya kita dapat mengambil tindakan untuk dapat menyelesaikan masalah. Jangan takut untuk melangkah, berbuat sesuatu dan mengambil tindakan jika Tuhan sudah membukakan hati dan pikiran kita. Damai sejahteraNya akan menjadi tanda bagi kita bahwa Tuhan akan menyertai langkah yang akan kita ambil. Ketika Bangsa Israel melangkah dengan iman untuk menyeberangi Sungai Yordan dan masuk ke Tanah Perjanjian, mujizatpun terjadi dan sungai langsung terbelah dua menjadi kering. Mujizat terjadi ketika kita melakukan langkah iman. Tanpa langkah iman, maka tidak akan ada mujizat dan pintu yang terbuka bagi kita. Jangan takut dan kuatir, karena Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah kita. “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” Yosua 1:9.

3. Nikmati kehidupan yang kita jalani
Rasul Paulus mengalami suka maupun duka, susah maupun senang, kelebihan maupun kekurangan, tetapi dia tetap menikmati seluruh kehidupannya. “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:12-13

Apapun yang kita alami saat ini, tetaplah berusaha untuk menikmatinya. Tetaplah naikkan ucapan syukur kepada Tuhan. Mungkin kita berpikir bahwa masalah kita adalah masalah yang paling berat yang pernah ada di muka bumi ini. Tetapi jika kita lebih peka lagi untuk melihat ke sekeliling kita, lebih banyak orang yang memiliki kesusahan yang jauh lebih berat dari yang kita alami saat ini.
Dan Tuhan tetap memberikan kekuatan bagi masing-masing kita untuk melaluinya, karena Dia tidak pernah memberikan pencobaan melebihi kekuatan kita. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10:13.
Cerita kehidupan kita tidak akan pernah berhenti sampai kita dipanggil oleh Tuhan. Cerita demi cerita, masalah demi masalah, suka maupun duka silih berganti berdatangan dalam kehidupan kita.

Tetapi jika kita dapat menikmatinya dan berjalan bersama Tuhan, maka kita akan semakin disempurnakan hari lepas hari. Dan cerita kehidupan kita akan menjadi bacaan terbuka bagi setiap orang yang ada di sekeliling kita bahkan menjadi berkat dan teladan bagi mereka semuanya.

Tetap berada dalam hadiratNya, tetap minta hikmatNya dan melangkah dengan iman, serta nikmati apa yang ada pada kita dan mengucap syukur kepada Tuhan. Kita pasti akan melihat pertolongan Tuhan atas hidup kita. Dia tidak pernah berhutang kepada kita. Jangan pernah ragukan kebesaran tangan Tuhan. Tetap berharap dan andalkan Dia. Haleluya! “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6. “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” Mazmur 37:23-24.

Sunday, January 30, 2011

Mukjizat: Cara Tuhan Mengatasi Problema Manusia

“Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” Matius 8:16-17

Pengantar

Dari perspektif ilmu kedokteran, sakit-penyakit yang diderita oleh manusia dipicu oleh faktor fisiologis dan psikosomatis. Namun, dari perspektif Alkitab pemicu utamanya ialah aspek rohani dimana dosa dan Iblis mempengaruhi keadaan rohani dan jasmani manusia.

Kemajuan dibidang ilmu kedokteran begitu menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Berbagai obat telah ditemukan. Metode penyembuhan pun begitu beragam. Mulai dari yang ilmiah sampai kepada yang herbal. Bahkan penyembuhan alternatif pun akhir-akhir ini memperlihat peningkatan yang signifikan. Semua itu ditawarkan kepada kita.
Minat manusia untuk menggunakan obat dan metode penyembuhan juga tinggi. Ini seiring dengan kompleksitas penyakit yang hampir setiap saat bermunculan. Serangan bakteri dan virus penyakit tidak pandang buluh. Orang bukan Kristen dan orang Kristen juga diterjangnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada obat dan metode penyembuhan itu ada yang berhasil. Penderita mengalami kesembuhan.

Perspektif Alkitab berkaitan denga sakit-penyakit cukup menarik untuk kita selidiki. Allah menyatakan diri sebagai Penyembuh. Sebagai Penyembuh menunjukkan bahwa Allah menjadi sumber kesembuhan yang sempurna bagi manusia. Kesembuhan sempurna disini bukan saja bicara soal penyakit fisik tapi juga berhubungan sakit rohani.

Menurut catatan Alkitab ada solusi yang Allah sendiri berikan kepada manusia. Ketika manusia mengalami persoalan yang kompleks, Allah menjadi Pribadi yang dapat memberikan solusi dan jawaban sempurna bagi segala persoalan kita. Baik masalah fisik dan juga masalah rohani.

Untuk masalah dosa, Allah menyediakan pengampunan melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Untuk masalah kematian, Allah menyediakan kebangkitan melalui kebangkitan Yesus sebagai buah sulung dari kebangkitan tubuh dan memberi hidup yang kekal kepada kita. Sedangkan untuk sakit-penyakit, Allah menyediakan kesembuhan.

Dengan demikian, sepanjang kehidupan Yesus di dunia ini, pelayanan-Nya yang rangkap tiga ialah mengajarkan firman Allah, memberitakan pertobatan (masalah dosa) dan berkat-berkat kerajaan Allah (kehidupan) dan menyembuhkan semua penyakit dan kelemahan di antara manusia menjadi fakta penting tentang semua pertolongan dan kesanggupan Allah untuk mengatasi masalah manusia.

Sunday, January 23, 2011

Kasih Yang Dibuktikan

Alkitab memberikan penegasan bahwa Allah itu kasih. Artinya Allah yang menjadi sumber kasih. Pada sisi lain, Allah juga membuktikan kasih-Nya. Bukti dari kasih Allah dapat dilihat secara jelas baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Lama, Allah membuktikan kasih-Nya dimulai dengan menciptakan jagad raya ini. Lalu menciptakan manusia sebagai puncak dari semua ciptaan. Konsistensi Allah dalam membuktikan kasih-Nya juga terlihat dalam upaya memelihara dan memberkati semua yang diciptakan-Nya.

Yang lebih menonjol dari Allah itu kasih ialah ketika manusia jatuh dalam dosa. Walaupun manusia sudah gagal untuk mentaati perintah Allah, namun Allah tidak secara serta merta membinasakan Adam dan Hawa dan membuat lagi Adam dan Hawa yang baru. Kendatipun Allah bisa melakukan hal itu.

Tapi justru Allah dalam kasih-Nya mendatangi dan mencari manusia yang sudah berdosa. Dan Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan. Namun sayang, manusia bukannya mengakui dan memohon pengampunan, tapi malahan mereka saling mempersalahkan. Sesudah itu Allah menjatuhkan vonis dan mengusir manusia keluar dari taman Eden. Sejak itulah relasi antara Allah dan manusia terputus secara rohani.

Lagi-lagi Allah tetap konsisten dalam membuktikan bahwa Ia adalah kasih. Ia memberi solusi bahwa ada harapan bagi manusia untuk dipulihkan relasinya dengan Allah melalui keturunan perempuan - Kej.3:15. Janji yang mengandung harapan pemulihan dan rekonsiliasi ini terus secara konsisten dijaga oleh Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama.

Melalui para nabi di Perjanjian Lama, Allah terus mengkomunikasikan akan janji kedatang Sang Pembebas dan Penebus manusia berdosa. Sejarah persembahan korban dalam Perjanjian Lama semua merujuk kepada akan datang Satu Pribadi yang sempurna. Allah melalui para nabi menubuatkan hal itu.

Klimaks dari janji yang telah dinubuatkan itu dibuktikan dengan inkarnasi Yesus menjadi manusia. Inkarnasi Yesus menjadi manusia sejati memiliki implikasi bahwa hanya manusia yang tanpa dosa sajalah yang dapat menjadi korban yang memuaskan hati Allah dan keadilannya.

Yesus dalam misi penyelamatan umat manusia berpuncak diatas kayu salib. Dia rela menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebusan yang mempersembahkan seluruh hidup-Nya untuk menyelamatkan manusia. Kematian Yesus diatas kayu salib merupakan bukti kasih Allah kepada manusia. Alkitab menulis: "...akan tetapi Allah membuktikan kasih-Nya kepada kita, ketika Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdos."

Jadi, ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah itu kasih, Alkitab membuktikan bahwa Allah yang kasih itu telah membuktikannya secara sempurna baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru yang klimaksnya dengan inkarnasi Yesus.

Wednesday, January 19, 2011

Pemimpin Bijak: Memimpin Dengan Gembira

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berja-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yag harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira,” (Ibrani 13:17).
PENGANTAR
Pemimpin yang bijaksana harus memimpin dengan gembira. Memimpin dengan gembira adalah kualitas kepemimpinan yang memiliki nilai tambah yang positif. Bagaimana pula memimpin dengan gembira itu dapat dilaksanakan? Menjawab pertanyaan di atas, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan gembira itu:

GEMBIRA ITU SEHAT
Memimpin dengan gembira dibangun di atas “sikap hati” yang gembira. Sikap hati gembira adalah sikap hati yang sehat. Firman Allah mengatakan, “Hati yang gembira adalah obat” (Amsal 17:22). Sesungguhnya menurut Firman Allah, memimpin dengan gembira itu sehat dan meringankan beban. Memimpin dengan gembira diawali dengan mendahulukan “sikap proaktif” dan menghindari “sikap reaktif.” Sikap proaktif dibangun diatas pikiran sehat dan jernih yang selalu berupaya menggunakan akalnya untuk mencari makna dibalik kata, sikap maupun tindakan orang lain. Sedangkan sikap reaktif muncul dari jiwa, roh dan hati yang kerdil yang akan selalu merasa tersinggung dengan kata, sikap dan tindakan orang, yang bermaksud baik sekalipun. Pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila ia menetapkan untuk gembira, bersikap gembira, bergaya gembira, berkata gembira, dan bertindak gembira, apa pun kata, sikap dan tindakan orang dalam situasi apa saja. Dale Carnegie mengatakan, “Jika kamu ingin hidup bahagia, maka bahagialah.”[1] Kalau begitu, kita dapat mengatakan, “Jika kamu ingin hidup gembira, bergembiralah.” Buktinya, “Anda dapat memimpin dengan gembira, karena hati Anda gembira, dan Anda bergembira dalam kepemimpinan dengan menjadikan situasi menyenangkan dan menggembirakan semua orang yang dipimpin”

GEMBIRA ITU SEMANGAT YANG MENGUNTUNGKAN
Kegembiraan menyatakan adanya semangat hidup yang positif. Adalah sangat tidak mungkin bergembira yang sejati, bila hati tidak bergembira. Hati yang gembira dibangun di atas kesadaran bahwa kegembiraan sejati itu datang dari TUHAN, dimana Firman Allah mengatakan: “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri” (Amsal 15:13). Hati yang gembira tercermin dari wajah yang berseri, dan wajah yang berseri menandakan adanya semangat hidup positif. Dan, semangat hidup positif akan menularkan semangat hidup positif kepada orang lain yang ada disekeliling kita, sehingga pemimpin yang memimpin dengan gembira lebih membawa keuntungan. Dapat dikatakan di sini bahwa pemimpin yang memimpin dengan gembira akan memberikan semangat yang positif kepada orang-orang yang dipimpinnya, dimana mereka akan merasa beruntung dibawah kepemimpinannya. Rasa beruntung seperti ini akan meneguhkan kepemimpinan, sehingga semua komponen orang akan bergerak proaktif yang akan mewujudkan sinergi kerja yang membawa keuntungan bagi semua pihak.

GEMBIRA ITU SELEBRASI YANG MENYENANGKAN
Gembira dan kegembiraan adalah situasi yang menggambarkan adanya kesenangan, “celebrations.” Hal ini dibenarkan oleh Firman Allah yang menegaskan: “Orang yang gembira hatinya selalu berpesta” (Amsal 15:15). Kalau begitu dapat dikatakan bahwa hati yang gembira membuat orang selalu merasa senang, dan kesenangan menjadikan semua situasi bagaikan “pesta perayaan.” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa memimpin dengan gembira adalah “menyuguhkan situasi pesta” dalam kepemimpinan yang olehnya semua orang disemangati untuk terlibat “proaktif dalam proses kepemimpinan.” Pada sisi lain, gembira sesungguhnya menyediakan “kemampuan untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan.” Firman Allah menandaskan: “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan” (Amsal 16:23-24). Dengan demikian, pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila “hatinya gembira.” Dan hati yang gembira meneguhkan kata-kata bijak yang menyenangkan hati orang lain, sehingga ada kekuatan yang dapat meyakinkan orang yang mendengarnya.
REFLEKSI:
Telah diuraikan di atas tentang prinsip memimpin dengan gembira, cara Alkitab. Dengan demikian, pemimpin dapat mewujudkan kepemimpinannya dengan gembira, melalui penerapan pola dan gaya kepemimpinan berikut:
Pertama, Pemimpin dapat memimpin dengan gembira, melalui mematutkan gaya, pola serta sikap proaktif yang dibangun dari “hati yang gembira.” Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by smiling” yang muncul dari hati yang gembira itu. Berlandaskan pola dan gaya leading by smiling ini, pemimpin menyiapkan situasi kondusif dan mengimpartasi sikap proaktif, sehingga semua komponen memiliki hati, pikiran, sikap dan kebiasaan yang positif yang memberikan andil serta kontribusi kepada terwujudnya kepemimpinan berkualitas dengan adanya hubungan-hubungan yang sehat antara pemimpin dan para bawahannya.
Kedua, Pemimpin dapat menerapkan pola dan gaya memimpin dengan gembira melalui hati yang gembira yang nampak dalam sifat dan cara gembira yang mempengaruhi pola serta gaya kepemimpinan. Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by feasting.” Leading by feasting ini diwujudkan melalui pola dan gaya mempertahankan serta mengembangkan sikap gembira, yang menyemangati semua komponen manusia dalam kepemimpinan. Leading by feasting juga merupakan pola dan gaya terbaik, yang ditandai oleh adanya kebiasaan menghargai, menikmati dan menyikapi kepemimpinan sebagai proses yang menyenangkan, yang memberikan tempat bagi paritisipasi semua kompenen manusia, yang melakukan tugasnya dengan penuh semangat.
Ketiga, Pemimpin dapat membuktikan kualitas kepemimpinannya dengan menggunakan pola dan gaya “leading by celebrating.” Pola dan gaya leading by celebrating ini membangun sikap proaktif, yang olehnya semua kompenen manusia dapat bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan. Bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan memberikan nilai tambah bagi pelaksanaan upaya memimpin, dimana akan ada keterlibatan dan peran proaktif semua kompenen SDM dalam kepemimpinan, karena masing-masing menyadari bahwa ia adalah pribadi yang memiliki bagian dalam kepemimpinan, yang harus disabut dan dilaksanakan dengan gembira. Adalah jelas, bahwa pola dan gaya kepemimpinan seperti ini akan membangun hubungan positif yang responsif, sehingga kepemimpinan pasti berjalan secara efektif, efisien dan sehat, yang mambawa hasil berkualitas yang semakin besar, karena semua orang smiling, feasting dan ceberating dalam proses kepemimpinan.[2]
Selamat membuktikan pola dan gaya memimpin dengan gembira cara Alkitab, demi keberhasilan bersama, sekarang dan di masa yang akan datang!!!

Sumber: www.yakobtomatala.com

Thursday, January 13, 2011

The Power Of Perspective

Ada seorang anak kecil yang berjalan pulang dari sekolah, tiba-tiba ia dihadang oleh seorang preman. Ia berlari, tapi tidak ada gunanya. Ia tersandung dan jatuh, ketika preman itu mendekat lalu mengancam anak itu, "Ayo, berikan hpmu, kalau tidak aku akan menghabisimu" ucap si preman. Tanpa diketahui oleh si preman, kakak anak itu juga sudah pulang dari kampus dan sekarang ada di belakang si preman. Bila anak kecil itu melihat kepada si preman, ia mungkin merasa takut. Namun bila ia memilih untuk memandang kepada kakaknya, rasa takutnya mungkin hilang, bahkan ia bisa sombong dan tenang. Perbedaannya terletak pada sudut pandangnya.

Perspektif dapat mengubah cara kita melihat sekeliling, memandang kehidupan dan memperhatikan berbagai pergumulan hidup. Cara pandang kita terhadap suatu persoalan dalam hidup itulah yang membuat perbedaan antara ketakutan dan keberanian.

Jadi, sudut pandang itulah yang memberi tahu kita bahwa kita aman di lingkungan mana pun kita berada. Sudut pandang bisa memandang situasi yang tidak menyenangkan sebagai kesempatan yang luar biasa atau sebaliknya.

Yesus berkata: "Lihat, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala" Lukas 10:3. Dalam perikop yang sama,Dia mengacu pada domba lebih dari satu kali. Dia menyebutkan "domba tanpa gembala" atau "domba yang hilang dari keluarga Israel" dan kemudian "domba di tengah-tengah serigala".

Kedua komentar pertama mengacu kepada domba yang menyedihkan, yang hancur, yang tak berdaya dan tanpa harapan. Komentar ketiga tidak. Dalam komentar ketiga ini, Yesus Sang Gembala Agung, sesungguhnya mengutus kita ke kandang serigala.

Gembala macam apakah itu? Mengapa Gembala yang Baik mengutus kita kepada serigala? Alasannya mungkin karena kita adalah domba yang istimewa. Mungkin kita dipandang sebagai keturunan domba baru yang aneh: "domba ninja mutan muda dengan kemampuan super.

Tidak, perbedaannya bukan pada dombanya, melainkan Gembalanya. Kita semua perlu diingatkan berulang-ulang bahwa kita tidak berbeda dari domba yang hilang, kecuali fakta bahwa kita sekarang memiliki Gembala. Di sini besar sekali perbedaan yang Dia lakukan. Kita tidak perlu takut terhadap segerombolan serigala karena Dia menyertai kita. Ke mana pun kita pergi, Gembala kita ada di sana.

Jadi, mengapa kita diutus kepada serigala? Meskipun Dia menjadi pelindung, penjaga, pembela kita, Dia juga punya misi untuk mencari dan menyelamatkan domba yang hilang. Serigala cenderung berkumpul di mana ada mangsa yang empuk.

Yesus diutus untuk mencari yang terhilang. Orang-orang yang mengikut Dia juga diutus untuk mencari hal yang sama (Yoh.20:21). Sebagai murid Kristus, kita telah bergeser dari korban yang lemah menjadi misionaris yang kuat dan berharga. Gembala Agung bersedia untuk pergi ke kandang serigala untuk menyelamatkan satu domba dari taring serigala yang lapar.

Ini bukan panggilan yang aman, melainkan berharga. Berada di tengah-tengah serigala tidak selalu nyaman. Apakah Yesus tertarik terhadap kenyamanan kita? Tentu saja; itulah sebabnya mengapa Ia mengutus Sang Penghibur yaitu Roh Kudus kepada kita. Namun penghiburan kita bukan berasal dari lingkungan yang aman, melainkan dari sumber kekuatan di dalam. Kekuatan ini paling nyata dalam skenario yang menekan, bahkan ketika kita dikelilingi serigala.

Perhatikan perbedaannya bukan pada domba, melainkan pada kehadiran Gembala. Itu semua yang dibutuhkan untuk bergeser dari pihak yang diburu menjadi pemburu. Ketika kita menghadapi serigala-serigala ganas kita memiliki Penolong Unggul yang siap menjadi sumber kekuatan dan pembela kita. Jika sudut pandang kita benar, kita tidak perlu lari ketakutan.

Wednesday, January 12, 2011

Kepemimpinan Yang Unggul

Bicara soal kepemimpinan seperti tidak pernah habis dibahas. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap kepemimpinan begitu menarik perhatian publik. Banyak perdebatan yang mengemuka manakala topik tetang kepemimpinan didiskusikan. Antara lain, apakah kematangan emosi (emotionally mature) menentukan keberhasilan seseorang dalam memimpin? Keluhan lain yang juga muncul ialah sulitnya menemukan dan mendapatkan pemimpin yang handal tapi matang.

Berangkat dari paradigma bahwa pemimpin diciptakan setelah dilahirkan (Vince Lombardi, John C. Maxwell), maka bukan hanya emosi yang diciptakan, tetapi juga tingkat intelektualnya, level passion-nya dan kematangan spiritualnya. Oleh sebab itu, ke empat misteri ini perlu terus diasah oleh "mature" leader.

1. Mature emotionally (soul).
2. Mature intelectual (the mind)
3. Mature passionately (be heart)
4. Mature spiritually (the spirit)

Sudah sampai tahap manakah tingkat kedewasaan dan kematangan kita sebagai pemimpin? Sehingga dari situlah kita akan menentukan keunggulan kepemimpinan dan tingkat keberhasilan kita memimpin orang lain.