Tuesday, December 6, 2011

Tips Pernikahan Bahagia Menurut Alkitab





1. Jangan pernah membawa-bawa kesalahan di masa lalu.
“Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Lukas 6:37)

2. Mengabaikan seluruh dunia daripada satu sama lain.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. (Markus 8:36)

3. Jangan pernah pergi tidur dengan adanya perselisihan yang belum ditangani
(Efesus 4:26)

4. Paling tidak dalam satu hari, selalu katakan sesuatu pujian pada pasangan anda
Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati. (Amsal 15:4)

5. Jangan pernah bertemu tanpa sambutan kasih sayang.
Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur (Kidung Agung 1:2)

6. ”Baik dalam kaya maupun miskin” – bersukacitalah dalam setiap moment yang Tuhan berikan pada anda bersama.
Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian. (Amsal 15:17)

7. Jika anda memiliki pilihan antara membuat diri anda atau pasangan yang terlihat baik, pilihlah pasangan anda.
Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. (Amsal 3:27)

8. Selama mereka masih bernafas, pasangan anda pada akhirnya akan menyerang anda sewaktu-waktu. Berlajarlah untuk mengampuni!.
”Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:3-4)

9. Jangan memakai iman percaya, Alkitab, atau Nama Tuhan sebagai palu penghancur bagi pasangan.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yohanes 3:17)

10. Biarlah kasih menjadi penuntun kehidupan.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (1Korintus 13:4-5)

Wednesday, October 5, 2011

Suatu Hari Ketika Kita Sama-Sama Menjadi Tua

Kuusap tangan keriputmu. Perlahan. Karena aku sendiri tak punya kekuatan sebesar dulu. Semua gerakku kulakukan hati-hati. Maklum, kita sudah tidak muda lagi. Tetapi,aku ingin untuk terus membelai wajahmu. Dalam kelembutan yang masih tersisa.Dalam pelannya gerakku yang kadang tersendat. Aku masih ingin luapkan cinta dalamhati ini kepadamu. Kuusap rambut di kepalamu yang helainya tak lagi sama seperti ketika kita berjumpa. Helainya makin tipis, berkurang satu demi satu. Sama seperti rambut panjangku yang rontok hari demi hari. Memenuhi lantai rumah yang sering disapu perlahan. Hanya ingin ungkapkan rasa yang pernah bersemi. Di masa lalu. Dulu. Dan berharap rasa itu terus ada dan tetap abadi sampai saat maut memisahkan kita. Kuambilkan kaca matamu. Kaca mata yang sama dengan milikku. Karena mata tua kita tak lagi awas melihat apa yang terjadi di depan kita. Terkadang huruf-huruf di suratkabar pun tak terbaca jelas. Tak mengapa, Sayangku, asal kita tetap punya mata hati yang jernih, sehingga mampu meneropong dunia lewat hal-hal yang pernah dan masih akan kita lalui. Suka dan duka, yang semuanya membuat pengalaman kita akan hidup semakin kaya. Kuingat ketika kita tertawa saat melepas gigi palsu yang memenuhi mulut kita. Rasanya sudah lama ya, kita tak punya gigi lengkap lagi. Menjadi kegiatan yang lucu karena pada akhirnya kita bisa bersiul sambil menyikat gigi. Siulan lagu-lagu kegemaran yang mengingatkan akan masa lalu yang penuh cerita bagi kita berdua. Suatu hari, ketika rumah yang dulu isinya tangisan, ompolan, dan mainan anak-anak kita… Menjadi sepi dan senyap karena mereka sudah beranjak dewasa. Mereka pergi mengejar cita dan cinta. Kuliah. Bekerja. Menikah. Dan tinggallah kita dalam rasa sepi kembali berdua. Mengunjungi mereka dan kunjungan dari mereka adalah hadiah terbesar bagi kita. Kita mulai saling memperhatikan (lagi). Setelah sekian lama perhatian itu terpecah kepada buah kasih kita. Suatu ketika, ketika rambut kita sama-sama memutih. Ketika eros (cinta yang dilandasi hawa nafsu) sudah jadi philia (cinta penuh persahabatan). Ketika kita tak lagi sanggup marah-marah karena suara sudah tak senyaring dulu. Meski masih saja kita berdebat mengenai soal-soal tak penting. Saling kesal, namun pernah juga berakhir dengan tertawa bersama. Biarlah kita tetap ingat cinta yang membawa kita sampai hari ini. Merenda kasih yang sarat konsekuensi penerimaan tanpa syarat sampai akhir nanti. Biarlah kita ingat, cinta ini bukan datang dengan sendirinya. Melainkan dia memang mesti dibina,dipertahankan, didoakan, dan dijalankan. Suatu ketika, saat kita sama-sama tua. Dengan kondisi tubuh yang tak lagi prima: mungkin pikun-mungkin tangan gemetar- mungkin sakit sakitan. Biarlah kita tetap miliki cinta yang tak lekang dimakan usia.

Wednesday, September 7, 2011

Memilih Bagian Yang Terbaik

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” ” Lukas 10:38-42 Bekerja merupakan suatu keharusan bagi setiap orang percaya. Tuhan senantiasa menyediakan berkat bagi mereka yang mau bekerja keras untuk mendapatkannya. Siapa yang bekerja akan mendapatkan upahnya. “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” 2 Tesalonika 3:10 Di sisi lain, berdoa juga merupakan keharusan bagi umat Tuhan. Doa merupakan nafas kehidupan kita. Doa merupakan komunikasi antara kita dengan Allah Bapa di sorga. Ketika kita berhenti berdoa, maka nafas kita juga berhenti, hubungan kita dengan Tuhan juga terhenti. Selain itu doa juga membawa kekuatan bagi kita dalam menghadapi berbagai masalah. Ketika kita ada dalam pencobaan, kita tinggal berseru kepadaNya melalui doa. Dia yang setia akan menjawab doa yang kita naikkan kepadaNya. Kita dapat melihat beberapa macam tipe orang yang ada di sekeliling kita. Satu tipe yang suka bekerja keras, tetapi melupakan doa. Mereka hanya berpikir bahwa segala kesuksesan diperoleh karena memang mereka bekerja keras. Tipe lainnya adalah yang suka berdoa dan berdoa terus, tanpa langkah iman yang nyata. Mereka yakin bahwa hanya dengan doa, mujizat pasti terjadi. Tipe yang lainnya adalah orang yang suka bekerja dan suka berdoa juga. Mereka menyadari bahwa jika mereka bekerja tanpa berdoa, usaha mereka akan sia-sia. Tetapi jika mereka hanya berdoa saja tanpa bekerja, mereka tidak akan mendapatkan berkat. Dari ayat di atas dapat kita pelajari bahwa Tuhan tidak menunjuk siapa yang salah dan siapa yang benar. Maria juga orang yang suka bekerja. Tetapi di bagian itu Maria menyadari bahwa dia harus duduk diam di bawah kaki Tuhan. Oleh karena itu Tuhan menyatakan bahwa Maria telah mengambil bagian yang terbaik, yaitu tetap memprioritaskan Tuhan di atas segala aktivitas maupun kegiatannya. Ketika kita bekerja dan tetap memuliakan nama Tuhan dalam setiap pekerjaan kita, maka Tuhan yang akan turun tangan memberi kita kemampuan dan kekuatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada. Seringkali kita menghadapi hal yang tidak mungkin bagi kita untuk dilakukan atau dikerjkan. Tetapi ketika kita berdoa dan menyerahkan pekerjaan itu kepada Tuhan, kemudian kita melakukan yang terbaik yang kita dapat lakukan, maka Tuhan akan mencurahkan kuasaNya atas diri kita, sehingga kita dapat menyelesaikan pekerjaan itu dengan baik. Bekerja dan berdoa harus dilakukan secara seimbang. Kita harus tetap bekerja untuk dapat memperoleh penghasilan untuk memenuhi segala kebutuhan kita maupun keluarga. Tetapi doa juga merupakan nafas bagi kita agar kita tetap dapat bertahan dalam berbagai keadaan, bahkan sampai kepada keadaan yang terburuk sekalipun. Melalui doa kita mendapat asupan energi supranatural, yang tidak kelihatan secara kasat mata, sehingga kita sanggup berdiri untuk meraih kemenangan demi kemenangan. Melalui doa kita mendapat hikmat untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Tanpa bekerjapun doa kita akan menjadi sia-sia. Ketika kita berdoa dan berdoa terus, tetapi kita tidak melangkah untuk mencari pekerjaan, maka kita tidak akan mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” Yakobus 2:17-20 Rasul Paulus juga tidak hanya mengabarkan dan mengajarkan Injil kepada banyak orang, tetapi dia juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian dia tidak menjadi beban bagi orang lain. Dan diapun juga dapat menjadi teladan bagi banyak orang. “Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.” 2 Tesalonika 3:7-9 Marilah kita tidak mengabaikan salah satu dari dua aspek ini, yaitu bekerja dan berdoa. Dengan demikian berkat kelimpahan, keberuntungan dan kesuksesan akan senantiasa mengikuti kita sampai kepada akhirnya. Nama Tuhan dimuliakan adanya. Ora et labora. (Ry050510) Doa: Tuhan mampukan saya untuk mengutamakan Engkau di atas segalanya. Mampukan saya juga untuk dapat melakukan tugas dan tanggung jawab saya dalam pekerjaan dengan baik. Pimpin dan sertai saya senantiasa.

Hidup dan Bekerja Memberi Buah

“Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Filipi 1:22a Begitu banyak hal yang harus kita hadapi selama kita masih hidup di dunia ini. Masalah tidak akan pernah habis-habisnya, tetapi akan terus datang. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti bahwa kita akan terlepas dari masalah, tetapi kita akan mendapat kekuatan dari Tuhan untuk dapat melalui masalah tersebut. Rasul Paulus sendiri juga menyadari hal tersebut. Dia mengalami begitu banyak masalah dalam hidupnya. Tidak hanya masalah biasa, tetapi hingga aniaya dan penderitaan yang hampir merenggut nyawanya. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1:21 Rasul Paulus mengerti bahwa jika dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, dia tidak akan mendapat berbagai masalah lagi dan tidak perlu bersusah-payah seperti yang dia alami saat itu. Tetapi dia tetap menyadari bahwa hidupnya adalah milik Kristus. Dan jika dia masih hidup, dia harus terus bekerja untuk menghasilkan buah bagi kemuliaan nama Kristus. Kita banyak melihat anggota keluarga, teman, kenalan dan orang-orang yang sudah dipanggil Tuhan lebih dahulu. Mereka yang telah percaya kepada Yesus akan menerima upahnya di Sorga. Mereka telah lebih dahulu menjalankan tugas yang diberikan Tuhan bagi mereka dan tugas mereka telah selesai. Lalu bagaimana dengan kita yang masih hidup? Sama seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus, kita harus menyadari bahwa kita hidup dengan suatu tujuan. Dan kita mempunyai tugas untuk menghasilkan buah bagi Kerajaan Sorga, baik itu buah pertobatan, buah pelayanan, buah jiwa-jiwa dan lainnya. Kita dapat melayani Tuhan di manapun kita berada. Pelayanan bagi jiwa-jiwa tidak hanya di dalam gereja saja, tetapi juga di luar gereja. Begitu banyak jiwa yang belum terjangkau dan belum mengenal Kristus. Melalui setiap pribadi kita, Tuhan dapat memakai hidup kita untuk menjadi saksi Kristus. Orang-orang di sekitar kita akan melihat kehidupan yang kita jalani sehingga mereka akan mendapat berkat melalui kehidupan kita. Mari kita terus bekerja untuk memberi buah bagi Kristus. Tidak ada kata selesai selama kita masih hidup di dunia ini. Kalaupun saat ini kita masih belum tahu apa yang harus kita lakukan, lakukan saja kebaikan dan perintah-perintah yang Tuhan Firmankan. Dengan menjalani hidup sesuai dengan Firman Tuhan, tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan, kita telah ikut ambil bagian untuk memberi buah bagi Kristus. Tidak hanya itu saja, bagi kita yang bekerja di dunia sekuler, biarlah kita bekerja dengan sungguh-sungguh. Bagi yang berwirausaha, biarlah melakukan usahanya sesuai dengan nilai kebenaran. Bagi yang sedang studi, biarlah belajar dengan rajin. Bagi yang ada dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, biarlah tetap melayani dengan hati yang murni. Apapun yang kita kerjakan, biarlah itu kita lakukan dengan sungguh-sungguh seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Tuhan akan terus menambahkan talenta bagi setiap pribadi yang tekun dan setia menjalani pekerjaannya dan melakukan perintahNya. Dia akan terus mengangkat hidup kita dan Dia akan senantiasa memberikan kekuatan bagi hidup kita. Ada saatnya kita merasa lelah, tetapi jika kita mengalami kelelahan tersebut, biarlah kita datang kepada Tuhan. Dia akan memberikan kekuatan baru bagi hidup kita. Dan kita tidak akan pernah berhenti bekerja untuk memberi buah. Haleluya! “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. ” Yesaya 40:31

Thursday, August 11, 2011

Makin Tinggi Hati

“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakana: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”
Yakobus 4:6

Seorang Cendikiawan menumpang perahu di sebuah danau. Ia bertanya kepada tukang perahu, “Sobat, pernahkah Anda mempelajari matematika?” Jawab tukang perahu, “Tidak”. Sang Cendikiawan berkata, “Sayang sekali, berarti Anda telah kehilangan seperempat kehidupan Anda. Atau, barangkali Anda pernah mempelajari ilmu filsafat?” “Itu juga tidak”, jawab tukang perahu. “Dua kali sayang, berarti Anda telah kehilangan lagi seperempat dari kehidupan Anda” celoteh Sang Cendikiawan. “Bagaimana dengan sejarah?” “Juga tidak”. “Tiga kali sayang, berarti seperempat lagi kehidupan Anda telah hilang.”

Tiba-tiba angin bertiup kencang dan terjadi badai. Danau yang tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi mereka pun oleng. Sang Cendikiawan itu pucat ketakutan. Dengan tenang tukang perahu itu bertanya, “Apakah Anda pernah belajar berenang?” “Tidak” jawab Sang Cendikiawan. “Sayang sekali, berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”

Dari humor di atas mengajarkan kepada kita beberapa hal, yaitu: pertama, kita tidak boleh sombong. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang tinggi hati akan direndahkan. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan ditinggikan pada waktunya; kedua, setinggi apapun pendidikan kita, kita tidak mungkin menguasai semua ilmu, apalagi keterampilan; ketiga, kita membutuhkan orang lain, tidak peduli seberapa rendah pendidikan orang itu.

Patut ditanam dalam hati dan pikiran kita betapa bencinya Allah terhadap kesombongan. Kesombongan menyebabkan Allah berpaling dari doa kita serta menahan kehadiran dan kasih karunia-Nya. Meninggikan diri di dalam pikiran kita sendiri atau mencari kehormatan dan penghargaan dari orang lain untuk memuaskan kesombongan kita berarti menutup pintu terhadap pertolongan Allah. Tetapi bagi mereka yang dengan rendah hati menyerah kepada Allah dan menghampiri-Nya, Allah memberikan kasih karunia, kemurahan dan pertolongan-Nya di dalam setiap situasi kehidupan.

Wednesday, May 25, 2011

Peran Gereja Mewujudkan Keluarga Sejahtera

Kualitas kehidupan keluarga mencerminkan kehidupan Gereja. Kualitas kehidupan Gereja mencerminkan kualitas kehidupan dalam masyarakat. Kualitas kehidupan masyarakat mencerminkan kualitas kehidupan bangsa. Artinya, kualitas kehidupan dalam keluarga akan berimbas kepada kualitas kehidupan Gereja dalam masyarakat. Dan kualitas kehidupan masyarakat berdampak kepada kualitas kehidupan bangsa.
Dalam perspektif Kristen, keluarga memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Alkitab menempatkan keluarga menjadi lembaga pertama dan utama dalam proses pembentukan kehidupan yang berkualitas – Ulangan 4:6-9. Di sisi lain, Alkitab juga memaparkan tentang komitmen, peran dan tanggungjawab Gereja dalam membangun keluarga sejahtera.

Dilema Demografi

Gereja dalam konteks kekinian, diperhadapkan dengan laju pertambahan penduduk yang sangat pesat. Menurut hasil Sensus Penduduk bulan Mei 2010, jumlah penduduk Indonesia 228 juta orang. Tentu di dalamnya terdapat keluarga-keluarga Kristen. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai Negara ke-empat terbesar di dunia dengan jumlah penduduknya setelah Cina, India dan Amerika Serikat.

Bertambahnya penduduk Indonesia, hal ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam mengingat kondisi perekonomian bangsa kita masih belum pulih akibat krisis global. Kondisi ini tentunya menjadi keprihatinan bersama, termasuk Gereja.

Dampaknya bukan saja masyarakat menjerit, tapi putus asa dan melakukan tindakan nekat. Orangtua tega membuang dan menjual anaknya. Tidak sedikit juga yang membunuh darah dagingnya sendiri. Istri menjual diri. Suami mengorbankan jatidirinya dengan menghalalkan segala cara. Bahkan suami dan istri saling membenci dan berujung kepada perceraian.

Tidak berimbangnya pertambahan penduduk dengan ketersediaan lapangan kerja mendorong terus meningkatnya angka pengangguran. Akibatnya banyak terjadi kerawanan di tengah masyarakat. Penyakit sosial masyarakat tentu akan menjamur. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri.

Nilai-nilai luhur ajaran agama terasa semakin luntur sejalan dengan derasnya arus globalisasi dan semakin meningkatnya proses berinteraksi dan berkomunikasi. Orientasi hidup yang sekuler turut mempercepat lepasnya ikatan batin masyarakat dengan nilai-nilai luhur ajaran agama yang diimaninya. Akibatnya kita dapat menyaksikan betapa kehidupan ini terkesan tidak lagi memiliki rasa malu, minim tanggungjawab. Keserakahan dan mementingkan diri sendiri mendominasi hampir semua elemen masyarakat. Keadaan ini bukan lagi sekadar gejala, tapi sudah hampir membudaya.

Partisipasi Gereja

Di tengah laju pertumbuhan penduduk yang begitu tinggi, Gereja diharapkan untuk berpartisipasi dan berkontribusi mewujudkan keluarga sejahtera. Gereja harus mampu menciptakan peluang-peluang agar jemaat dapat lebih produktif lagi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Perlu dicari celah-celah usaha agar jemaat bisa diberdayakan.

Hal itu menjadi tugas Gereja. Mengapa? Karena Gereja adalah tempat di mana Tuhan menyampaikan kasih kepada umat-Nya. Lalu bagaimana supaya Gereja itu fungsional? Langkah apa yang harus ditempuh oleh Gereja dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera?

Pertama, optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam. Salah satu perintah Allah kepada manusia ialah supaya manusia mengelola alam ciptaan-Nya secara bertanggung jawab untuk kelangsungan dan kesejahteraan hidup manusia itu sendiri – Kejadian 1:28. Potensi sumber daya alam yang telah tersedia harus dimanfaatkan secara optimal. Tindakan tersebut merupakan suatu upaya konkrit dalam memberdayakan dan menggairahkan ekonomi jemaat.

Kedua, menggalang kerjasama/kemitraan dengan pemerintah. Gereja tidak bisa berjuang sendiri dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera. Gereja juga tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya yang tersedia di dalam jemaat. Perlu membangun dan memperkuat kerjasama secara eksternal dengan pihak pemerintah dan swasta. Artinya, Gereja mampu berjejaring dan bersinergi dengan investor sebagai pemilik modal untuk mendukung upaya Gereja mewujudkan jemaat yang sejahtera. Dalam kaitan ini, pelayanan Gereja pada prinsipnya adalah berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan jemaat secara holistik, sehingga tercipta keseimbangan dalam hidup jasmani dan rohani. Terpenuhinya kebutuhan tersebut akan meningkatkan taraf hidup jemaat, pada gilirannya juga akan berdampak kepada meningkatnya perekonomia Gereja.

Ketiga, mengembangkan potensi lokal tepat guna. Potensi lokal tepat guna yang dimaksudkan di sini ialah menunjuk kepada pertanian, peternakan dan perikanan. Setiap jemaat lokal tentu memiliki potensi tersebut. Untuk itu, Gereja perlu memainkan perannya secara strategis dan benar. Di sini, Gereja berfungsi sebagai fasilitator. Pola pertanian, peternakan dan perikanan ini diarahkan kepada system yang lebih modern dengan hasil yang maksimal. Jemaat tidak lagi melakukan pola pertanian, peternakan dan perikanan dengan menggunakan system tradisional. Jemaat yang tertarik dengan petanian, maka mereka dilengkapi dengan pengetahuan pertanian modern. Jemaat yang menekuni perikanan, maka mereka dilengkapi dengan pengetahuan seputar cara dan metode penangkapan dan pemeliharaan ikan. Jemaat yang ingin mengembangkan sector peternakan, maka mereka perlu diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan peternakan. Semua jemaat didorong untuk memiliki skill khusus di bidang masing-masing. Untuk mewujudkan hal itu, maka Gereja harus menjadi mediator dan fasilitator untuk menghadirkan tenaga-tenaga berkualitas di bidang masing-masing, yaitu pertanian, peternakan dan perikanan. Bila jemaat memiliki pengetahuan dan skill yang memadai tentang potensi lokal yang dimilikinya, maka mereka tidak lagi menggunakan cara-cara tradisional, tetapi cara modern, dengan hasil yang optimal. Hal itu akan berdampak kepada kehidupan ekonomi mereka. Apa yang ditabur oleh Gereja bagi jemaat, tentu Gereja juga yang akan memetik hasilnya. Artinya, bila jemaat secara ekonomi meningkat, maka itu juga akan berpengaruh terhadap perekonomian Gereja. Singkatnya, bila jemaat sejahtera, maka Gereja juga sejahtera.

Keempat, home industry. Usaha kecil merupakan kekuatan ekonomi yang menopang kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia. Dikatakan demikian, karena usaha kecil dapat tumbuh dan berkembang baik di daerah perkotaan maupuan daerah pedesaan. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang berusaha untuk mengembangkan dan menggairahkan ekonomi kerakyatan. Tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan.
Gereja perlu tampil untuk memperdulikan masyarakat miskin pada umumnya dan secara khusus jemaat sebagai focus pelayanan utama. Peranan Gereja ialah untuk menaikan derajat hidup dan citra diri masyarakat miskin dari mentalitas kemiskinan (poverty mentality) menjadi memiliki mentalitas kemakmuran (prosperity mentality).
Pendekatan yang dapat dilakukan oleh Gereja untuk menjawab kebutuhan peningkatan ekonomi jemaat ialah melalui industry rumahan (home industry). Pendekatan ini dilakukan dengan cara membina dan melatih jemaat dengan keterampilan khusus, di mana rumah menjadi kantornya. Apabila Gereja berkomitmen untuk membina dan melatih jemaat untuk menekuni usaha home industry, maka kehidupan ekonomi jemaat akan meningkat. Tentu di sisi lain, ada lapangan kerja yang tersedia bagi jemaat, sehingga mengurangi pengangguran.

Kelima, memberdayakan persembahan persepuluhan. Persembahan persepuluhan merupakan persembahan yang ditetapkan oleh Allah. Persembahan persepuluhan dipahami sebagai persembahan 1/10 dari harta/penghasilan seseorang yang dipersembahkan kepada Allah melalui Gereja. Hal ini menjadi keharusan bagi semua jemaat. Alasannya menurut Ruth F. Selan dalam buku Menggali Keuangan Gereja, yaitu: pertama, sebagai upeti dari seorang bawahan kepada atasan; kedua, untuk menyokong pekerjaan keimamatan (Ul. 14:28, 29); ketiga, untuk menyokong orang miskin dan yang berkekurangan (Ul. 14:28-29); keempat, sebagai ucapan syukur atas berkat khusus; kelima, sebagai tindakan ketaatan terhadap perekonomian ilahi yang menyediakan tambahan dari berkat materi dan persediaan ilahi (Mal. 3:10).

Merujuk kepada penjelasan di atas, maka setiap dan semua orang Kristen punya kewajiban untuk memberikan persembahan persepuluhan karena hal tersebut menyukakan dan menyenangkan hati Allah. Prinsipnya ialah kita memahami bahwa Allah merupakan sumber, pemilik dan pemberi berkat bagi kita. Segala sesuatu dari, oleh, untuk dan bagi kemuliaan Allah – Keluaran 9:29; Ulangan 8:18; 10:14; 1 Korintus 10:26.
Gereja punya tanggung penuh untuk mengelola persembahan persepuluhan secara benar dan proporsional serta tidak menyalahgunakannya. Setiap persembahan harus dikelola sebaik-baiknya untuk pemenuhan kebutuhan operasional pelayanan Gereja baik internal maupun eksternal.

Masing-masing Gereja pasti punya kebijakan keuangan tersendiri, khususnya berkaitan dengan persembahan persepuluhan. Namun demikian, kebijakan keuangan Gereja harus menempatkan kesejahteraan jemaat di atas segalanya dan kemaslahatan umat manusia pada umumnya. Artinya, persembahan persepuluhan dapat digunakan untuk membiayai kegiatan atau program-program yang bersentuhan dengan kebutuhan memberdayakan dan menggairahkan ekonomi jemaat.

Perintah Allah kepada orang Israel dan tentu kepada kita juga melalui nabi Yeremia, demikian: “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; …. Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu juga” – Yeremia 29:4-7.
Perintah itu masih tetap relevan. Walaupun suasananya berbeda. Namun, pelayanan Gereja masih dalam konteks demikian. Pelayanan spiritual (berdoa) dan pelayanan sosial ekonomi (dirikanlah rumah dan buatlah kebun). Muaranya ialah kesejahteraan jemaat dan juga masyarakat (kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu).

Friday, May 6, 2011

Mengembangkan Komunikasi Yang Membahagiakan

Komunikasi. Tidak selalu mudah. Perlu dikembangkan. Mengapa? Karena tidak semua komunikasi dapat dijalankan secara baik dan tepat. Peranan komunikasi dalam lapangan kehidupan di dunia ini sangat signifikan dan punya pengaruh. Penggunaan sarana komunikasi pun sangat fariatif. Verbal - non verbal, langsung maupun tidak langsung, cetak maupun elektronik. Dll.

Komunikasi dalam kepemimpinan sangat penting. Ini merupakan saluran yang menghubungkan pemimpin dengan pemimpin, pemimpin dengan bawahan, bawahan dengan bawahan. Kelancaran tugas kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh skill komunikasi. Sukses atau gagalnya sebuah organisasi dalam mencapai tujuan salah satunya dipengaruhi oleh komunikasi.

Oleh sebab itu mengembangkan komunikasi perlu dilakukan. Salah satu solusi terbaik. Bila ini bisa dilakukan, niscaya sangat membahagiakan semua pihak yang terlibat dalam sebuah jaringan. Baik antar pribadi, kelompok, perusahaan, dan lembaga lainnya.

Apa saja yang perlu dikembangkan dalam sebuah komunikasi yang menuju kebahagiaan?

Pertama, asas kesamaan. Komunikasi mengandung unsur kesamaan. Artinya, antara pimpinan dan bawahan harus mampu memposisikan diri secara tepat dan benar ketika menyampai pendapat melalui komunikasi yang sejuk, santun dan elegant. Sehingga tidak terjadi mis komunikasi. Di mata komunikasi semua sama rata sama rasa. Tidak ada perbedaan. Kalau hal ini ditumbuh-kembangkan secara baik, maka komunikasi akan jalan dengan lancar, konflik pasti terhindarkan.

Kedua, asas kesatuan. Komunikasi memiliki aspek kesatuan. Artinya, ada kesatuan bahasa. Dalam banyak kenyataan, bahasa sebagai saluran tidak selamanya efektif atau memenuhi keinginan dalam komunikasi. Bahasa punya fungsi untuk menyampaikan gagasan, perasaan, hasrat, keinginan, pertimbangan, penilaian, cita-cita dan isi hati dari setiap insan manusia. Kesatuan dalam bahasa, akan memudahkan mendapat kesatuan pikiran, perasaan, kemauan, cita-cita dan pertimbangan.

Ketiga, asas tujuan. Komunikasi mempunyai asas tujuan yang akan dicapai. Terdapat saling hubungan dan saling mempengaruhi antara azas-azas itu dengan asas kesatuan tujuan.

Monday, January 31, 2011

Langkah Untuk Terlepas Dari Masalah

“Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.” Mazmur 91:1-4.

Tidak habis-habisnya kita menghadapi masalah dalam kehidupan ini. Tetapi Tuhan memang tidak pernah berjanji kepada kita bahwa Dia akan menghilangkan masalah dari kehidupan kita. Satu hal yang pasti adalah Dia berjanji akan melepaskan kita dari segala masalah yang kita hadapi dan memberikan kemenangan bagi kita atas masalah-masalah tersebut. Lalu bagaimana agar kita dapat menerima kelepasan dari Tuhan dan meraih kemenangan atas setiap masalah? Berikut 3 langkah yang dapat menjadi panduan bagi kita untuk terlepas dari masalah:

1. Jangan menjauh dari Tuhan.
Keadaan susah yang kita alami tidak boleh membuat kita menjauh dan mundur dari Tuhan. Jika perlu kita harus lebih aktif lagi mencari wajah Tuhan. Semakin kita menjauh dari Tuhan, maka perlindungan Tuhan juga akan menjauh dari kita. Kita akan menjadi lebih rentan lagi terhadap berbagai masalah dan bahaya yang menghadang. Kita tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Tetapi jika kita tetap berada dalam naungan Tuhan, maka Tuhan akan selalu memberikan perlindungan bagi kita. Tidak ada sehelai rambutpun akan jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan. Sama seperti kisah Ayub yang mengalami pencobaan yang begitu berat, tetapi dia tetap menggantungkan hidupnya kepada Tuhan. Sehingga Tuhanpun memulihkan kehidupannya bahkan memberkatinya berlipat ganda.

Tetaplah dekat kepada Tuhan dan berusaha untuk lebih dekat lagi kepadaNya ketika kita sedang masalah yang berat. Maka kita akan melihat tangan Tuhan yang akan menolong dan melepaskan kita dari segala jerat yang ada. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10:25. “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” 1 Timotius 4:8.

2. Melangkah dengan iman
Tuhan akan mencurahkan hikmatNya bagi kita jika kita senantiasa dekat kepadaNya. Dia akan memberikan jalan keluar bagi kita. Melalui hikmatNya kita dapat mengambil tindakan untuk dapat menyelesaikan masalah. Jangan takut untuk melangkah, berbuat sesuatu dan mengambil tindakan jika Tuhan sudah membukakan hati dan pikiran kita. Damai sejahteraNya akan menjadi tanda bagi kita bahwa Tuhan akan menyertai langkah yang akan kita ambil. Ketika Bangsa Israel melangkah dengan iman untuk menyeberangi Sungai Yordan dan masuk ke Tanah Perjanjian, mujizatpun terjadi dan sungai langsung terbelah dua menjadi kering. Mujizat terjadi ketika kita melakukan langkah iman. Tanpa langkah iman, maka tidak akan ada mujizat dan pintu yang terbuka bagi kita. Jangan takut dan kuatir, karena Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah kita. “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” Yosua 1:9.

3. Nikmati kehidupan yang kita jalani
Rasul Paulus mengalami suka maupun duka, susah maupun senang, kelebihan maupun kekurangan, tetapi dia tetap menikmati seluruh kehidupannya. “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:12-13

Apapun yang kita alami saat ini, tetaplah berusaha untuk menikmatinya. Tetaplah naikkan ucapan syukur kepada Tuhan. Mungkin kita berpikir bahwa masalah kita adalah masalah yang paling berat yang pernah ada di muka bumi ini. Tetapi jika kita lebih peka lagi untuk melihat ke sekeliling kita, lebih banyak orang yang memiliki kesusahan yang jauh lebih berat dari yang kita alami saat ini.
Dan Tuhan tetap memberikan kekuatan bagi masing-masing kita untuk melaluinya, karena Dia tidak pernah memberikan pencobaan melebihi kekuatan kita. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10:13.
Cerita kehidupan kita tidak akan pernah berhenti sampai kita dipanggil oleh Tuhan. Cerita demi cerita, masalah demi masalah, suka maupun duka silih berganti berdatangan dalam kehidupan kita.

Tetapi jika kita dapat menikmatinya dan berjalan bersama Tuhan, maka kita akan semakin disempurnakan hari lepas hari. Dan cerita kehidupan kita akan menjadi bacaan terbuka bagi setiap orang yang ada di sekeliling kita bahkan menjadi berkat dan teladan bagi mereka semuanya.

Tetap berada dalam hadiratNya, tetap minta hikmatNya dan melangkah dengan iman, serta nikmati apa yang ada pada kita dan mengucap syukur kepada Tuhan. Kita pasti akan melihat pertolongan Tuhan atas hidup kita. Dia tidak pernah berhutang kepada kita. Jangan pernah ragukan kebesaran tangan Tuhan. Tetap berharap dan andalkan Dia. Haleluya! “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6. “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” Mazmur 37:23-24.

Sunday, January 30, 2011

Mukjizat: Cara Tuhan Mengatasi Problema Manusia

“Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” Matius 8:16-17

Pengantar

Dari perspektif ilmu kedokteran, sakit-penyakit yang diderita oleh manusia dipicu oleh faktor fisiologis dan psikosomatis. Namun, dari perspektif Alkitab pemicu utamanya ialah aspek rohani dimana dosa dan Iblis mempengaruhi keadaan rohani dan jasmani manusia.

Kemajuan dibidang ilmu kedokteran begitu menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Berbagai obat telah ditemukan. Metode penyembuhan pun begitu beragam. Mulai dari yang ilmiah sampai kepada yang herbal. Bahkan penyembuhan alternatif pun akhir-akhir ini memperlihat peningkatan yang signifikan. Semua itu ditawarkan kepada kita.
Minat manusia untuk menggunakan obat dan metode penyembuhan juga tinggi. Ini seiring dengan kompleksitas penyakit yang hampir setiap saat bermunculan. Serangan bakteri dan virus penyakit tidak pandang buluh. Orang bukan Kristen dan orang Kristen juga diterjangnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada obat dan metode penyembuhan itu ada yang berhasil. Penderita mengalami kesembuhan.

Perspektif Alkitab berkaitan denga sakit-penyakit cukup menarik untuk kita selidiki. Allah menyatakan diri sebagai Penyembuh. Sebagai Penyembuh menunjukkan bahwa Allah menjadi sumber kesembuhan yang sempurna bagi manusia. Kesembuhan sempurna disini bukan saja bicara soal penyakit fisik tapi juga berhubungan sakit rohani.

Menurut catatan Alkitab ada solusi yang Allah sendiri berikan kepada manusia. Ketika manusia mengalami persoalan yang kompleks, Allah menjadi Pribadi yang dapat memberikan solusi dan jawaban sempurna bagi segala persoalan kita. Baik masalah fisik dan juga masalah rohani.

Untuk masalah dosa, Allah menyediakan pengampunan melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Untuk masalah kematian, Allah menyediakan kebangkitan melalui kebangkitan Yesus sebagai buah sulung dari kebangkitan tubuh dan memberi hidup yang kekal kepada kita. Sedangkan untuk sakit-penyakit, Allah menyediakan kesembuhan.

Dengan demikian, sepanjang kehidupan Yesus di dunia ini, pelayanan-Nya yang rangkap tiga ialah mengajarkan firman Allah, memberitakan pertobatan (masalah dosa) dan berkat-berkat kerajaan Allah (kehidupan) dan menyembuhkan semua penyakit dan kelemahan di antara manusia menjadi fakta penting tentang semua pertolongan dan kesanggupan Allah untuk mengatasi masalah manusia.

Sunday, January 23, 2011

Kasih Yang Dibuktikan

Alkitab memberikan penegasan bahwa Allah itu kasih. Artinya Allah yang menjadi sumber kasih. Pada sisi lain, Allah juga membuktikan kasih-Nya. Bukti dari kasih Allah dapat dilihat secara jelas baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Lama, Allah membuktikan kasih-Nya dimulai dengan menciptakan jagad raya ini. Lalu menciptakan manusia sebagai puncak dari semua ciptaan. Konsistensi Allah dalam membuktikan kasih-Nya juga terlihat dalam upaya memelihara dan memberkati semua yang diciptakan-Nya.

Yang lebih menonjol dari Allah itu kasih ialah ketika manusia jatuh dalam dosa. Walaupun manusia sudah gagal untuk mentaati perintah Allah, namun Allah tidak secara serta merta membinasakan Adam dan Hawa dan membuat lagi Adam dan Hawa yang baru. Kendatipun Allah bisa melakukan hal itu.

Tapi justru Allah dalam kasih-Nya mendatangi dan mencari manusia yang sudah berdosa. Dan Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan. Namun sayang, manusia bukannya mengakui dan memohon pengampunan, tapi malahan mereka saling mempersalahkan. Sesudah itu Allah menjatuhkan vonis dan mengusir manusia keluar dari taman Eden. Sejak itulah relasi antara Allah dan manusia terputus secara rohani.

Lagi-lagi Allah tetap konsisten dalam membuktikan bahwa Ia adalah kasih. Ia memberi solusi bahwa ada harapan bagi manusia untuk dipulihkan relasinya dengan Allah melalui keturunan perempuan - Kej.3:15. Janji yang mengandung harapan pemulihan dan rekonsiliasi ini terus secara konsisten dijaga oleh Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama.

Melalui para nabi di Perjanjian Lama, Allah terus mengkomunikasikan akan janji kedatang Sang Pembebas dan Penebus manusia berdosa. Sejarah persembahan korban dalam Perjanjian Lama semua merujuk kepada akan datang Satu Pribadi yang sempurna. Allah melalui para nabi menubuatkan hal itu.

Klimaks dari janji yang telah dinubuatkan itu dibuktikan dengan inkarnasi Yesus menjadi manusia. Inkarnasi Yesus menjadi manusia sejati memiliki implikasi bahwa hanya manusia yang tanpa dosa sajalah yang dapat menjadi korban yang memuaskan hati Allah dan keadilannya.

Yesus dalam misi penyelamatan umat manusia berpuncak diatas kayu salib. Dia rela menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebusan yang mempersembahkan seluruh hidup-Nya untuk menyelamatkan manusia. Kematian Yesus diatas kayu salib merupakan bukti kasih Allah kepada manusia. Alkitab menulis: "...akan tetapi Allah membuktikan kasih-Nya kepada kita, ketika Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdos."

Jadi, ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah itu kasih, Alkitab membuktikan bahwa Allah yang kasih itu telah membuktikannya secara sempurna baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru yang klimaksnya dengan inkarnasi Yesus.

Wednesday, January 19, 2011

Pemimpin Bijak: Memimpin Dengan Gembira

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berja-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yag harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira,” (Ibrani 13:17).
PENGANTAR
Pemimpin yang bijaksana harus memimpin dengan gembira. Memimpin dengan gembira adalah kualitas kepemimpinan yang memiliki nilai tambah yang positif. Bagaimana pula memimpin dengan gembira itu dapat dilaksanakan? Menjawab pertanyaan di atas, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan gembira itu:

GEMBIRA ITU SEHAT
Memimpin dengan gembira dibangun di atas “sikap hati” yang gembira. Sikap hati gembira adalah sikap hati yang sehat. Firman Allah mengatakan, “Hati yang gembira adalah obat” (Amsal 17:22). Sesungguhnya menurut Firman Allah, memimpin dengan gembira itu sehat dan meringankan beban. Memimpin dengan gembira diawali dengan mendahulukan “sikap proaktif” dan menghindari “sikap reaktif.” Sikap proaktif dibangun diatas pikiran sehat dan jernih yang selalu berupaya menggunakan akalnya untuk mencari makna dibalik kata, sikap maupun tindakan orang lain. Sedangkan sikap reaktif muncul dari jiwa, roh dan hati yang kerdil yang akan selalu merasa tersinggung dengan kata, sikap dan tindakan orang, yang bermaksud baik sekalipun. Pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila ia menetapkan untuk gembira, bersikap gembira, bergaya gembira, berkata gembira, dan bertindak gembira, apa pun kata, sikap dan tindakan orang dalam situasi apa saja. Dale Carnegie mengatakan, “Jika kamu ingin hidup bahagia, maka bahagialah.”[1] Kalau begitu, kita dapat mengatakan, “Jika kamu ingin hidup gembira, bergembiralah.” Buktinya, “Anda dapat memimpin dengan gembira, karena hati Anda gembira, dan Anda bergembira dalam kepemimpinan dengan menjadikan situasi menyenangkan dan menggembirakan semua orang yang dipimpin”

GEMBIRA ITU SEMANGAT YANG MENGUNTUNGKAN
Kegembiraan menyatakan adanya semangat hidup yang positif. Adalah sangat tidak mungkin bergembira yang sejati, bila hati tidak bergembira. Hati yang gembira dibangun di atas kesadaran bahwa kegembiraan sejati itu datang dari TUHAN, dimana Firman Allah mengatakan: “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri” (Amsal 15:13). Hati yang gembira tercermin dari wajah yang berseri, dan wajah yang berseri menandakan adanya semangat hidup positif. Dan, semangat hidup positif akan menularkan semangat hidup positif kepada orang lain yang ada disekeliling kita, sehingga pemimpin yang memimpin dengan gembira lebih membawa keuntungan. Dapat dikatakan di sini bahwa pemimpin yang memimpin dengan gembira akan memberikan semangat yang positif kepada orang-orang yang dipimpinnya, dimana mereka akan merasa beruntung dibawah kepemimpinannya. Rasa beruntung seperti ini akan meneguhkan kepemimpinan, sehingga semua komponen orang akan bergerak proaktif yang akan mewujudkan sinergi kerja yang membawa keuntungan bagi semua pihak.

GEMBIRA ITU SELEBRASI YANG MENYENANGKAN
Gembira dan kegembiraan adalah situasi yang menggambarkan adanya kesenangan, “celebrations.” Hal ini dibenarkan oleh Firman Allah yang menegaskan: “Orang yang gembira hatinya selalu berpesta” (Amsal 15:15). Kalau begitu dapat dikatakan bahwa hati yang gembira membuat orang selalu merasa senang, dan kesenangan menjadikan semua situasi bagaikan “pesta perayaan.” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa memimpin dengan gembira adalah “menyuguhkan situasi pesta” dalam kepemimpinan yang olehnya semua orang disemangati untuk terlibat “proaktif dalam proses kepemimpinan.” Pada sisi lain, gembira sesungguhnya menyediakan “kemampuan untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan.” Firman Allah menandaskan: “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan” (Amsal 16:23-24). Dengan demikian, pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila “hatinya gembira.” Dan hati yang gembira meneguhkan kata-kata bijak yang menyenangkan hati orang lain, sehingga ada kekuatan yang dapat meyakinkan orang yang mendengarnya.
REFLEKSI:
Telah diuraikan di atas tentang prinsip memimpin dengan gembira, cara Alkitab. Dengan demikian, pemimpin dapat mewujudkan kepemimpinannya dengan gembira, melalui penerapan pola dan gaya kepemimpinan berikut:
Pertama, Pemimpin dapat memimpin dengan gembira, melalui mematutkan gaya, pola serta sikap proaktif yang dibangun dari “hati yang gembira.” Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by smiling” yang muncul dari hati yang gembira itu. Berlandaskan pola dan gaya leading by smiling ini, pemimpin menyiapkan situasi kondusif dan mengimpartasi sikap proaktif, sehingga semua komponen memiliki hati, pikiran, sikap dan kebiasaan yang positif yang memberikan andil serta kontribusi kepada terwujudnya kepemimpinan berkualitas dengan adanya hubungan-hubungan yang sehat antara pemimpin dan para bawahannya.
Kedua, Pemimpin dapat menerapkan pola dan gaya memimpin dengan gembira melalui hati yang gembira yang nampak dalam sifat dan cara gembira yang mempengaruhi pola serta gaya kepemimpinan. Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by feasting.” Leading by feasting ini diwujudkan melalui pola dan gaya mempertahankan serta mengembangkan sikap gembira, yang menyemangati semua komponen manusia dalam kepemimpinan. Leading by feasting juga merupakan pola dan gaya terbaik, yang ditandai oleh adanya kebiasaan menghargai, menikmati dan menyikapi kepemimpinan sebagai proses yang menyenangkan, yang memberikan tempat bagi paritisipasi semua kompenen manusia, yang melakukan tugasnya dengan penuh semangat.
Ketiga, Pemimpin dapat membuktikan kualitas kepemimpinannya dengan menggunakan pola dan gaya “leading by celebrating.” Pola dan gaya leading by celebrating ini membangun sikap proaktif, yang olehnya semua kompenen manusia dapat bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan. Bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan memberikan nilai tambah bagi pelaksanaan upaya memimpin, dimana akan ada keterlibatan dan peran proaktif semua kompenen SDM dalam kepemimpinan, karena masing-masing menyadari bahwa ia adalah pribadi yang memiliki bagian dalam kepemimpinan, yang harus disabut dan dilaksanakan dengan gembira. Adalah jelas, bahwa pola dan gaya kepemimpinan seperti ini akan membangun hubungan positif yang responsif, sehingga kepemimpinan pasti berjalan secara efektif, efisien dan sehat, yang mambawa hasil berkualitas yang semakin besar, karena semua orang smiling, feasting dan ceberating dalam proses kepemimpinan.[2]
Selamat membuktikan pola dan gaya memimpin dengan gembira cara Alkitab, demi keberhasilan bersama, sekarang dan di masa yang akan datang!!!

Sumber: www.yakobtomatala.com

Thursday, January 13, 2011

The Power Of Perspective

Ada seorang anak kecil yang berjalan pulang dari sekolah, tiba-tiba ia dihadang oleh seorang preman. Ia berlari, tapi tidak ada gunanya. Ia tersandung dan jatuh, ketika preman itu mendekat lalu mengancam anak itu, "Ayo, berikan hpmu, kalau tidak aku akan menghabisimu" ucap si preman. Tanpa diketahui oleh si preman, kakak anak itu juga sudah pulang dari kampus dan sekarang ada di belakang si preman. Bila anak kecil itu melihat kepada si preman, ia mungkin merasa takut. Namun bila ia memilih untuk memandang kepada kakaknya, rasa takutnya mungkin hilang, bahkan ia bisa sombong dan tenang. Perbedaannya terletak pada sudut pandangnya.

Perspektif dapat mengubah cara kita melihat sekeliling, memandang kehidupan dan memperhatikan berbagai pergumulan hidup. Cara pandang kita terhadap suatu persoalan dalam hidup itulah yang membuat perbedaan antara ketakutan dan keberanian.

Jadi, sudut pandang itulah yang memberi tahu kita bahwa kita aman di lingkungan mana pun kita berada. Sudut pandang bisa memandang situasi yang tidak menyenangkan sebagai kesempatan yang luar biasa atau sebaliknya.

Yesus berkata: "Lihat, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala" Lukas 10:3. Dalam perikop yang sama,Dia mengacu pada domba lebih dari satu kali. Dia menyebutkan "domba tanpa gembala" atau "domba yang hilang dari keluarga Israel" dan kemudian "domba di tengah-tengah serigala".

Kedua komentar pertama mengacu kepada domba yang menyedihkan, yang hancur, yang tak berdaya dan tanpa harapan. Komentar ketiga tidak. Dalam komentar ketiga ini, Yesus Sang Gembala Agung, sesungguhnya mengutus kita ke kandang serigala.

Gembala macam apakah itu? Mengapa Gembala yang Baik mengutus kita kepada serigala? Alasannya mungkin karena kita adalah domba yang istimewa. Mungkin kita dipandang sebagai keturunan domba baru yang aneh: "domba ninja mutan muda dengan kemampuan super.

Tidak, perbedaannya bukan pada dombanya, melainkan Gembalanya. Kita semua perlu diingatkan berulang-ulang bahwa kita tidak berbeda dari domba yang hilang, kecuali fakta bahwa kita sekarang memiliki Gembala. Di sini besar sekali perbedaan yang Dia lakukan. Kita tidak perlu takut terhadap segerombolan serigala karena Dia menyertai kita. Ke mana pun kita pergi, Gembala kita ada di sana.

Jadi, mengapa kita diutus kepada serigala? Meskipun Dia menjadi pelindung, penjaga, pembela kita, Dia juga punya misi untuk mencari dan menyelamatkan domba yang hilang. Serigala cenderung berkumpul di mana ada mangsa yang empuk.

Yesus diutus untuk mencari yang terhilang. Orang-orang yang mengikut Dia juga diutus untuk mencari hal yang sama (Yoh.20:21). Sebagai murid Kristus, kita telah bergeser dari korban yang lemah menjadi misionaris yang kuat dan berharga. Gembala Agung bersedia untuk pergi ke kandang serigala untuk menyelamatkan satu domba dari taring serigala yang lapar.

Ini bukan panggilan yang aman, melainkan berharga. Berada di tengah-tengah serigala tidak selalu nyaman. Apakah Yesus tertarik terhadap kenyamanan kita? Tentu saja; itulah sebabnya mengapa Ia mengutus Sang Penghibur yaitu Roh Kudus kepada kita. Namun penghiburan kita bukan berasal dari lingkungan yang aman, melainkan dari sumber kekuatan di dalam. Kekuatan ini paling nyata dalam skenario yang menekan, bahkan ketika kita dikelilingi serigala.

Perhatikan perbedaannya bukan pada domba, melainkan pada kehadiran Gembala. Itu semua yang dibutuhkan untuk bergeser dari pihak yang diburu menjadi pemburu. Ketika kita menghadapi serigala-serigala ganas kita memiliki Penolong Unggul yang siap menjadi sumber kekuatan dan pembela kita. Jika sudut pandang kita benar, kita tidak perlu lari ketakutan.

Wednesday, January 12, 2011

Kepemimpinan Yang Unggul

Bicara soal kepemimpinan seperti tidak pernah habis dibahas. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap kepemimpinan begitu menarik perhatian publik. Banyak perdebatan yang mengemuka manakala topik tetang kepemimpinan didiskusikan. Antara lain, apakah kematangan emosi (emotionally mature) menentukan keberhasilan seseorang dalam memimpin? Keluhan lain yang juga muncul ialah sulitnya menemukan dan mendapatkan pemimpin yang handal tapi matang.

Berangkat dari paradigma bahwa pemimpin diciptakan setelah dilahirkan (Vince Lombardi, John C. Maxwell), maka bukan hanya emosi yang diciptakan, tetapi juga tingkat intelektualnya, level passion-nya dan kematangan spiritualnya. Oleh sebab itu, ke empat misteri ini perlu terus diasah oleh "mature" leader.

1. Mature emotionally (soul).
2. Mature intelectual (the mind)
3. Mature passionately (be heart)
4. Mature spiritually (the spirit)

Sudah sampai tahap manakah tingkat kedewasaan dan kematangan kita sebagai pemimpin? Sehingga dari situlah kita akan menentukan keunggulan kepemimpinan dan tingkat keberhasilan kita memimpin orang lain.